Skip to main content

I Called them FAMILY :)

Mungkin ini bakalan jadi post termellow kayaknya. Mengingat udah (hampir) semua gue tulis di blog tentang kehidupan di Flotim ini. Dari kemarin kan bahas tempat wisata terus, mari sekarang bahas orang-orang di sekitar gue selama ada di Flotim terlebih di Lewopao, pulau Adonara. Banyak sih yang mau gue tulis, cuma sepertinya orang-orang inilah yang paling sering gue repotkan. Hehe.


Terima kasih :

Pak Olen dan Keluarga


Kenalkan, mereka adalah keluarga angkat gue selama di Lewopao. Setidaknya, mereka yang ‘bertanggung jawab’ atas gue, mbak Uti dan Riki selama di sana. Terima kasih Pak Olen, Bu Ita, Kakek, Memey, Ka Ika, Vento dan juga Cheryl. Mereka semua benar-benar menanggap gue (kami) kayak anak dan cucu mereka. Kalau di kostan lagi gak ada makanan, ya paling banter lari ke rumah ini dan minta makan sama Bu Ita. Kalau ada apa-apa di rumah, pasti larinya juga ke sini. pas diomelin Memey Abon juga ngadunya ke sini. Pokoknya kalau ada apa-apa ya pasti langsung lari ke keluarga ini dulu.


Ah iya, terimakasih juga Pak Olen atas pinjaman motornya. Superlah ya, ini gue nobatkan lah jadi motor tergagah se-pulau Adonara kayaknya. Iyaps, percaya atau enggak, tapi motor ini yang udah mengantarkan gue  keliling pulau Adonara dengan cara gonceng tiga orang. Hehehe :D  Belum lagi ini motor pernah jatoh dulu sama Mbak Uti tapi masih tetap gagah tua diii.. Maaf ya pak Olen kalau Ricky sama Mbak Uti suka asal make motornya  - -“ (hahaha yaiyalah, kan gue cuma penumpang doang, mereka berdua yang nyetir).




Om Pit dan Mama Ida


Sebenarnya rumah mereka itu gak terlalu dekat sama gue. Mereka rumahnya di bawah sedangkan gue rumahnya ada di atas. Tapi puji Tuhan deh ya, kami bertiga (gue, mbak Uti dan Ricky) macam dianggap anak sama mereka. Kalau mereka lagi ada acara syukuran (contoh, kayak kemarin mereka ada bikin toko baru), eh kita diundang  (diharuskan datang) untuk makan-makan di sana. Padahal mah pas sampai, gak ada tetangga yang diundang, cuma keluarganya Om Pit doang. Ditambah masakan mama Ida itu endeus bener sih. Hahaha. Ya maklum lah ya, secara Mama Ida lama tinggal di Jakarta, jadi masakannya pun sesuai banget dengan lidah kami bertiga.

Mereka ini adalah keluarga yang selalu kami repotin kalau udah urusan transportasi. Kalau mau pergi ke Waiwerang (atau mau pesiar) pasti deh… larinya ke mereka dulu.. buat pinjem motor. Disaat semua orang pada ‘nyewa’ ke mereka, puji Tuhan loh, kita dipinjemin gratis. Hahahaha. Om Pit memang tahulah ya kehidupan anak rantau pas-pasan kayak apa :D Dan kami bertiga selalu ngebatesin jatah peminjaman motor ke mereka, ya tau diri sedikitlah ya, gak setiap hari juga minjem motornya. Tapi yang pasti, setiap hari Minggu pasti motor om Pit selalu gue sama Riki pinjem buat ke Gereja. Ada sih gereja di desa gue, tapi adanya gereja Katolik. Pernah ikut sih misanya sekali, tapi entahlah seperti kurang ‘sreg’ aja. Jadilah kita tiap minggu pinjem untuk gereja di GMIT Waiwerang.


Ah iya. Kemarin pas pulang pun kami dianterin Om Pit sampai ke pelabuhan. Hahaha sweet banget lah pokoknya. Terima kasih banyak ya Om Pit dan Mama Ida. Akhirnya parasit yang suka minjemin motor udah gak ada - -“


Mama Monik dan Memey Abon


Mereka adalah tetangga yang ada di sebelah rumah gue. Mama Monik ini tukang cerita banget. Dia sekalinya main ke rumah pasti ada aja yang diceritain. Entah cerita pengalaman hidupnya lah, atau cerita tentang kelakuan si Memey, atau apalah itu. Tapi paling seru kalau dia cerita kelakuan si Memey apalagi kalau dia lagi niru Memey ngomong, duh bikin ngakak gak kelar-kelar.


Ah iya, ini namanya Memey Abon. Memey paling gahul se-Lewopao. Ya namanya udah tua, ya awajarlah ya kalau sering ngomel. Lucunya, diantara kami bertiga, cuma gue yang selalu lolos dan gak pernah di’semprot’ sama si Memey. Yang paling apes itu sih mbak Uti, hahahaa. Padahal gue yang bikin salah karena waktu itu lupa buka pintu rumah sebelah, jadilah si Memey ngedumel karena gak bisa nenun (FYI, rumah sebelah gue alias tempat jemuran itu biasa dipakai si memey buat nenun). Untungnya gue lagi gak di rumah, jadilah mbak Uti yang disemprot. Hahaha. Maap ya mbak Uti :D

Keluarga Acco Corebima


Sebenarnya sih ini keluarga angkatnya Yanti ya. Mereka tinggal di Kiwangona bukan di jalan bawah. Cuman, biarpun begitu, bisa dibilang mereka ini Bapak Mamanya anak-anak Adotim dan mereka pun juga menganggap kami semua ini anak-anak mereka. Mau kami ngerusuh kayak bagaimanapun di rumahnya, pasti deh selalu di-persilah-kan, bahkan selalu dikasih bonus makanan pula. Hahaha. Kadang, kalau abis pulang gereja, gue sama Ricky gak langsung balik, ya pasti lari dulu ke sini untuk minta… makan sama Mama Dewi. Untung selalu dikasih.


Gak cuma urusan makanan ataupun urusan basecamp, tapi Pak Ako juga sangat baik dengan mengajak kami pesiar ke Meko. Cerita lengkapnya tentang Meko, silakan klik ini. Huah, pokoknya, terima kasih keluarga Corebima. Sepi deh rumahnya gak ada lagi yang ribut-ribut :D

Keluarga Bapak Sius


Nah, ini bapak kost gue. Beliau ini yang punya rumah yang gue tempatin selama setahun ada di Lewopao. Mereka gak tinggal di Lewopao melainkan tinggal di Maumere. Cuma, berhubung Pak Sius ini bapak besar, jadilah kalau ada acara (kebanyakan sih acara kedukaan), beliau sering bolak-balik ke Lewopao dan tinggal di kamar depan.


Jarang bertemu tapi sekalinya ketemu ya nyusahin. Hahahaa. Tiap ke Maumere pasti deh selalu nginep di rumah Pak Sius. Pertama kali datang masih laporan, kedua kali dateng langsung nongol di depan pintu. Untung gak diusir Bapak sama Mama.

Ah iya, Pak Sius ini benar-benar kayak Bapak kami sih. Entahlah, udah berapa banyak orang yang kami anggap jadi Bapak dan Mama angkat. Hahahaha. Pernah sekali gue iseng jalan ke pantai bawah sendirian. Sialnya, pas sampai pantai itu pantai sepi banget (ya gimana gak sepi, orang ada kedukaan lo malah jalan ke pantai). Cuma ada gue, dua anak kecil dan satu orang yang entahlah agak menyeramkan. Nah orang ini ngajak gue ngobrol terus sedangkan gue risih sendiri ditambah dua anak kecil ini ketawa terus, kayak ada yang salah dengan ini orang. Dan…. Jreng jreng. Tiba-tiba si Bapak nongol (tau aja gitu gue butuh orang buat nolongin) dan langsung bilang, “jangan diganggu, itu anak saya”. Aaaakkk. Love love. Jadilah gue dianterin Bapak pulang. Sampai di rumah, baru dah si Bapak bilang kalau yang tadi ngajak gue ngobrol itu.. orang gila rupanya. Hft.

Keluarga SM-3T Flores Timur


Maybe we're not the best one, but we've tried our best to be the good one. Halah, apaan dah gue. Bohong kalau gue bilang anak-anak Flores Timur itu kompak banget, enggak. Ini menurut gue adalah tim yang paling rusuh dan super baper yang pernah gue kenal. Hahaha, ya termasuk gue sih di dalemnya.


Tapi yaudahlah ya, setahun udah berlalu. Menyatukan isi 29 kepala itu kan gak mudah memang. Tapi ada satu cara untuk bisa menyatukan kita semua, yaitu dengan.... musik. Yuhu, silahkan setel musik dan mari kita dansa rame-rame. Selamat berpisah teman-teman. Sampai jumpa di kemudian hari!



Rangers  Adonara Timur


Dibilang kompak, iya. Dibilang gak kompak juga iya. Hahaha. Bingung kan. Karena lingkupan Flores Timur itu terlalu luas, jadilah kalau mau pesiar ataupun kumpul, ya pasti sama mereka-mereka ini dulu. Dan gak bisa dipungkiri kayaknya, hampir 80% permasalahan yang ada di geng Flotim, awal mulanya pasti dari kelakuan anak-anak Adotim duluan. Entahlah, ada yang tiba-tiba memutuskan untuk mogok rapat dan langsung pulau ke Adotim ; ada juga yang mulai perang status di BBM ; dan lain-lainnya. Buahaha. 


Dibilang Adotim itu kompak, ya kagak juga meeen. Wong isinya anak-anak batu semua, kalau gak sesuai keinginan langsung baper (termasuk gue jugaaa). Atuhlah, setahun ternyata gak cukup ya untuk membuat kita mengenal satu sama lain. Buahahaha. Terimakasih atas cerita suka dan dukanya dan acara baper-bapernya. Semoga kita ketemu lagi dengan pribadi yang lebih dewasa yaa. wakakakkaak (apaan beut dah ah omongan gue).

Keluarga Wawe


Yak. Terakhir. inilah keluarga kecil gue.
Mau ada apa-apa pasti pertama kali ceritanya kalau gak ke Mbak Uti ya ama Ricky.
Terus gue gak tahu lagi dong mau nulis apa buat keluarga yang satu ini.
Udah kehabisan kata-kata juga, malah sedih sendiri lihat foto-foto bertiga.


:")

Sekali lagi,

Terima kasih sekali lagi karena sudah menerima Dian dengan sangat baik di sana. Entahlah, udah berapa kali gue tulis kata terima kasih, tapi itu semua kayaknya gak cukup untuk semua kebaikan mereka selama di sana.

Sampai berjumpa lagi, semoga masih ada kesempatan untuk menginjakkan kaki lagi di sana. And after all, I called them Family :)



Dian Chrisniar

Comments

Popular posts from this blog

PM1

gue dapet banyak pelajaran dari pengalaman bikin paspor selama hampir dua mingguan ini. eh wait... mau kemane bu? hahahaahah. gua kan mau jalan-jalan, jadi ya dari sedini mungkin sudah dipersiapkan tetek bengeknya. hahahah (tau-taunya ditempatin di tempat yang gak bisa 'jalan-jalan'. aaaakkk jangaaannn).

persyaratan bikin paspor sebenarnya gak terlalu ribet ya, coba monggo di klik dulu link ini buat tahu apa aja syarat-syarat yang harus di bawa untuk pembuatan pasport nya (jangan lupa dibawa semua berkas aslinya ya!).

Nokia 130

jadi tahu kan kalau kemarinan itu gue abis ganti ke xiaomi redmi note. nah, yang belum tahu dan pengen tahu reiew-an gue tentang HP xiaomi, monggo di-klik link ini.

permasalahan yang kemarin, kebetulan gue belinya yang 4G yang mana 4G nya itu single sim. mengingat provider besar di negara ini sangatlah tidak ramah dengan paketan internet jadilah akhirnya gue tetap berpendirian teguh untuk memakai kartu 3 dengan sistem kuota mereka yang setahun tanpa ada pembagian jam, tapi ya begitu dengan kualitas yang... hmh... gak bagus-bagus amat. setidaknya untuk messenger masih mumpuni lah, cuma ya jangan harap kalian bisa upload foto aja sih... hehe. hehe. kalian upload pagi, malemnya baru muncul di linimasa. wakawak.

SKBN dan SKS

sesuai janji yang kemarin, berhubung 2 hari yang lalu gue kelar ngurus Surat Keterangan Sehat (SKS) dan Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN), maka dari itu malam ini mau bahas cara buat ngedapetin kedua surat itu. ngurus SKBN sebenarnya bisa di BNN, cuma berhubung gue males harus pindah-pindah tempat jadilah gue ngurus itu di satu tempat yaitu di RSUD Budhi Asih di Cililitan sana.